Tuesday, January 12, 2016

Jaepongan, Petak Umpet Versi 2

permainan masa kecil
credit : 1freewallpapers.com
Assalamu’alaikum…:)

Bagi saya, yang adalah anak 90-an, sangat akrab dengan permainan tradisional zaman masih kecil dulu. Beda banget yah dengan zaman sekarang. Masih kecil aja pegangannya udah gadget. Tahunya main subway surfers sama pou doang, haha.

Saya inget banget saat saya kecil dulu, di kampung saya TV masih sangat jarang. Bisa diitung dengan jari deh orang yang punya TV di rumahnya. So, satu-satunya hiburan adalah dengan bermain bersama teman-teman. Saat itu sih seru abis ya. Nggak ada tuh pikiran entar capeklah, item lah, nggak cantik lah. Yang penting hepi judulnya.

Nah, ngomongin masalah permainan tradisional nih, banyak banget kan ya jenis permainannya. Bahkan, untuk satu jenis yang sebenarnya sama aja, beda daerah beda nama brohh. Tapi intinya sih sama. Buat seneng-seneng menghibur diri.

Di kampung saya banyak sekali permainan tradisionalnya, dulu. Tapi kalau kalian menanyakan suatu permaian di sana dengan nama umum, pasti banyak yang tak tahu. Karena namanya berbeda. Misalnya, lompat karet kami sebut semprengan, kelereng kami bilang setin. Kemudian kalau di daerah lain namanya engklek, di tempat saya namanya ting ting brok. Karena mainnya setelah lompat ting ting kemudian brughh. Emm.. apa lagi ya? Oiya congklak, di daerah saya disebut dakon. Kemudian ada juga benthik, gatheng (bola bekel) sampai sekedar masak-masakan dengan atau tanpa api pun ada.

Dan tentu saja tak ketinggalan, adalah petak umpet. Di kampung saya, kami menyebutnya jilumpet atau dul dulan. Sebabnya sepele. Karena kami lebih suka bilang ‘Dul xxx’ saat ada teman tertangkap. Jadilah kami beri nama dul dulan.

Petak umpet ini sebenarnya permainan sepanjang zaman kalau boleh saya bilang. Di sini, di tahun 2016 ini pun anak-anak di sekitar rumah masih sering memainkannya. Di luar negeri juga ada kan hide and seek. Jadi kalau menurut saya, petak umpet ini fenomenal. Haha.

Oke back to the topic, selain petak umpet versi biasa, di kampung saya juga ada petak umpet dengan sedikit improvisasi. Namanya Jaepongan. Pleasee.. jangan ngebayangin Jaipongan yang ituhh.. Jaepongan versi kami ini nggak pakai joget-joget.

BUKAN JAIPONG YANG INI YA. :) img source : bandung.bisnis.com
Caranya dengan menggunakan sebuah kaleng susu sebagai pengganti pohon atau dinding tempat kita nge –pong. Pertama, kami akan mencari batu yang kami sebut gacho. Kaleng susu di taruh di tanah. Di depannya –sekitar 1 meter- kami buat garis penanda.

Masing-masing pemain akan melempar gacho nya dengan satu kaki menginjak kaleng dan gacho ini harus melebihi garis penanda. Kalau kurang? Harus diulang.

Setelah semua orang melempar, yang mempunyai gacho terjauh akan berusaha menggelindingkannya ke arah kaleng –seperti bowling- hingga kaleng terjatuh. Semua akan melakukannya hingga ada yang bisa menjatuhkan kaleng. Kalau ada satu orang yang berhasil menjatuhkan, maka teman yang gachonya lebih dekat dari dia akan menjadi penjaga.

Pemain yang tadi menjatuhkan kaleng, akan melemparkan kaleng sejauh mungkin dan si penjaga wajib mengambilnya. Saat proses pengambilan inilah, semua orang lari dan bersembunyi.

Setelah kaleng diambil dan diletakkan kembali, baru lah proses pencarian di mulai. Sama seperti petak umpet biasa. Hanya saja kali ini ‘basecamp’ nya adalah kaleng susu bekas tadi. Kami harus menginjak sambil menyebut ‘Pong Budi’ misalnya.

Permainan ini lebih seru dan menantang daripada sekedar petak umpet biasa. Karena kita dituntut untuk lebih teliti, lebih bekerja sama dalam bermain. Misalnya, kita harus berusaha bagaimana caranya merobohkan kaleng susu. Karena merupakan kebanggaan tersendiri jika kita bisa merobohkan kaleng dari jarak jauh. :) Atau bagaimana caranya melempar lebih jauh agar kami mempunyai kesempatan untuk mencari persembunyian lebih lama.

Si penjaga juga mempunyai kesempatan untuk menyerah, jika kesulitan mencari tempat persembunyian teman yang lain. Jika begitu, teman yang masih bersembunyi akan keluar dan mengulang kembali lemparan kalengnya. Kemudian kembali bersembunyi, tapi harus di tempat berbeda.

Mungkin di daerah lain juga ada sih permainan ini dan dengan versi yang lain lagi. Tapi yang jelas, permainan jenis petak umpet begini benar-benar seru pada saat itu. Tak adanya hiburan elektronik mampu mendekatkan kami, untuk lebih rukun dan tak ada lagi perbedaan umur. Ahh.. kangen lagi masa-masa itu.

Saya bersyukur banget dapat merasakan permainan-permainan itu. Kalau kamu?

giveaway permainan masa kecil

"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

This entry was posted in

12 comments:

  1. saya juga mbak merasakan permainan yg lebih jadul lagi malahan..ahaha..
    salam kenal ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba,, tapi lebih asyik jaman dulu yak :)

      Delete
  2. saya juga merasakan permainan yg jadul mbak,,ahahaha
    salam kenal mbak ^^

    ReplyDelete
  3. Kalau saya, saya hobinya main layangan, sampai panas panasan tapi tetep seneng. Btw, kunjungan baliknya ya di http://amir-silangit.blogspot.co.id/2016/01/mengenang-era-90-dengan-memainkan.html salam kenal sesama blogger :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyak. tapi itu maenan cowok. dan saya nggak pernah berhasil nerbangin. hehe

      Delete
  4. Baca tulisan ini samar-samar jadi ingat kalau mudik ke rumah Mbak, sepupu2 pernah menyebutkan permainan yang namanya pong-pongan. Wah ikut GA ini jadi membangkitkan kenangan masa kecil ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau di daerahku,, pong pongan itu sebutan untuk kelomang mba.. hewan yang ada cangkangnya mirip keong tapi ada kakinya itu :)

      Delete
  5. permainannya sama dengan tumpuk batu bukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan mba.. yang ini mirip petak umpet. kalau tumpuk batu ada lagi, di daerahku namanya dino boy

      Delete
  6. iyaaa aku pernah denger permainan pong2an ini juga

    ReplyDelete
  7. ditempat aku kecil dulu ada model jaepongan tapi lupa namanya apa ya. makasih udah ikutan ya

    ReplyDelete
  8. Aku pernah main nih.. tapi gak tau kalo namanya jaepongan :D

    ReplyDelete

Terima kasih Anda sudah mengunjungi d'journal of ifah.